Senin, 14 November 2011

Materi Dasar-dasar BK


A.    Model-            Model Bimbingan dan Pola-Pola Dasar Pelaksanaan Bimbingan.
1.      Model-Model Bimbingan.
Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya, meskipun setiap individu memiliki keterbatasan.Manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Untuk kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan orang lain untuk menopang keberadaannya danmemperoleh manfaat dari orang tersebut.Adapun model layanan bimbingan dan konseling sebagaimana yang dikemukakan oleh Shertzer dan Stone dalam Fundamentals of Guidance (1981) yai
(a)    Frank Parson; yang mendirikan Vocational Bureau di kota Boston (1908) dan menerbitkan buku yang berjudul Choosing a Vocation (1909), menciptakan istilahVocattional Guidance yang dewasa ini dipandang sebagai salah satu ragam bimbingan(jabatan atau kerier). Menurut pandangan Parson, baik individu maupun masyarakat akanmendapat keuntungan kalau terdapat kecocokan antara ciri-ciri kepribadian seseorangdan tuntutan-tuntutan dibidang pekerjaan yang dipegang oleh orang itu. Tiga faktor utama utama dianggap sangat menentukan dalam memilih suatu bidang pekerjaan yaituanalisis terhadap diri sendiri (kemampuan, bakat dan minat serta temperamen), analiskalau terdapat kecocokan antara ciri-ciri kepribadian seseorang dan tuntunan-tuntunan bidang pekerjaan yang dipegang oleh orang itu. Tiga faktor utama yang dianggap sangat menetukan dalam memilih suatu bidang pekerjaan, yaitu analisis terhadap diri sendiri 
(kemampuan, bakat dan minat serta temperamen), analisis terhadap bidang pekerjaan(kesempatan, tuntunan dan prospek masa depan), serta perbandingan antara hasil keduaanalisis tadi untuk menemukan kecocokan antara data tentang diri sendiri dan datatentang bidang-bidang pekerjaan.
(b)   John M.Brewer,yang menerbitkan buku Education as Guidance (1932), berpendapat bahwa tugas pendidikan sekolah adalah mempersiapkan siswa untuk mengatur berbagai bidang kehidupan sedemikian rupa, sehingga bermakna dan memberikan kepuasan, seperti bidang kesehatan, bidang kehidupan keluarga, bidang pekerjaan, bidang reaksi, bidang perluasan pengetahuan, dan b idang kehidupan bermasyarakat. Pendidikan dan bimbingan dianggap tidak jauh berbeda,karena ke-duanya  berfungsi sebagai bantuan kepada generasi muda dalam belajar seni hidup sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat.
(c)    William M. Proctor, yang menerbitkan buku Education and Vocational Guidance, mengembangkan model bimbingan yang mengenal dua fungsi pokok, yaitu fungsi penyaluran (distributive function)  dan fungsi penyesuaian (adjustmental function). Fungsi penyaluran menyangkut bantuan yang diberikan kepada siswa  dalam memilih program studi tertentu ,aktivitas ekstrakurikuler, bentuk rekreasi sehat serta jalur persiapan mantap untuk memegang jabatan yang sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, dan cita-cita dari siswa sendiri. Fungsi penyesuain menyangkut bantuan yang diberikan kepada siswa dalam melaksanakan secara konsisten dan konsekuen pilihan yang telah mereka buat, seandainya timbul kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan beraneka tuntutan dalam lingkungan atau bidang kehidupan tertentu.
(d)   Donal G. Patterson, (1938) dalam konseling yang dikenal dengan metode klinis menekankan perlunya menggunakan teknik-teknik untuk mengenal konseli dengan menggunakan tes psikologis dan studi diagnostik.
(e)    Arthur J. Jones, (1970) menekankan pelayanan bimbingan sebagai bantuan kepada siswadalam membuat pilihan-pilihan dan dalam mengadakan penyesuaian diri. Bantuan itu terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut bidang studi akademik dan bidang pekerjaan. Model ini juga menekankan bentuk pelayanan individu mengutamakan ragam bimbingan belajar serta bimbingan jabatan dan memberi tekanan pada komponen bimbingan penempatan pengumpulandata serta wawancara.
(f)    Ruth Strabf, (1964) yang berpandangan menyangkut bimbingan melalui wawancara konseling.Model ini menekankan bentuk pelayanan individu dan pelayanan secara kelompok danmengutamakan komponen bimbingan pengumpulan dan wawancara konseling
(g)   Kenneth B. Hoyt, (1962) yang mendeskripsikan model bimbingan mencakup sejumlahkegiatan bimbingan dalam rangka melayani kebutuhan siswa di jenjang pendidikan dasar danmenengah. Model ini menekankan pelayanan individual dan kelompok dan memungkinkan pelayanan yang bersifat preventif, preserveratif dan remedial dan mengutamakan ragam bimbingan belajar dan pribadi.
(h)   Wilson Little dan AL. Champman, (1955) menekankan perlunya memberikan bantuan kepadasemua siswa dalam aspek perkembangan siswa dalam bidang studi akademik dalammempersiapkan diri memangku suatu jabatan dan dalam mengolah pengalaman batin serta pergaulan sosial. Model ini memanfaatkan bentuk pelayanan individual dan kelompok,mengutamakan sifat bimbingan preventif dan preserveratif dan melayani bimbingan belajar, jabatan dan bimbingan pribadi.
(i)     Chris D. Kehas, (1970) merumuskan tujuan pendidikan di sekolah, memberikan tekanan pada perkembangan kepribadian peserta didik, tetapi di lapangan hanya aspek intelektual yangdiperhatikan. Dengan demikian tenaga-tenaga bimbingan hanyalah berfungsi dalam rangkameningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di kelas
(j)     Ralp Moser dan Norman A. Srinthall, (1971), mengajukan usul supaya di sekolah diberi pendidikan psikologis yang dirancang untuk menunjang perkembangan kepribadian para siswadengan mengutamakan belajar dinamik-efektif yang menyangkut kepribadian nilai-nilai hidupdan sikap-sikap. Pelayanan bimbingan tidak hanyadibatasi pada mereka yang menghadapkonselor sekolah, tetapi sampai pada semua siswa yang mengikuti pendidikan psikologis. Inimerupakan keunggulan modelnya.
(k)   Julius Menacker, (1976) model ini menekankan usaha mengadakan perubahan dalamlingkungan hidup yang menghambat perkembangan yang optimal bagi siswa. Keunggulan modelini ialah pandangan tingkah laku seseorang sebaiknya dilihat sebagai hasil interaksi antaraindividu dengan lingkungan hidupnya
B. 2.     Pola-Pola Dasar Pelaksanaan Bimbingan
Menurut hasil analisis Edward C. Glanz, (1964) dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbinga di institusi pendidikan muncul empat pola dasar yang diberi nama sebagai berikut:
(a)    Pola Generalis, bahwa corak pendidikan dalam suatu institusi pendidikan berpengaruhterhadap kuantitas usaha belajar siswa, dan seluruh staf pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing-masing siswa. Ujung pelayanan bimbingan dilihat sebagai program yang kontinyu dan bersambungan yang ditujukan kepada semua siswa. Pada akhirnya, bimbingan hanya dianggap perlu pada saat-saat tertentu saja.
(b)   Pola Spesialis, bahwa pelayanan bimbingan di institusi pendidikan harus ditangani oleh ahli-ahli bimbingan yang masing-masing berkemampuan khusus dalam pelayanan bimbingan tertentuseperti testing psikologis, bimbingan karir, dan bimbingan konseling.
(c)    Pola Kurikuler, bahwa kegiatan bimbingan di institusi pendidikan dusulkan dimasukkan dalamkurikulum pengajaran dalam bentuk pengajaran khusus dalam rangka sustu kursus bimbingan.Segi positif dari pola iniialah hubungan langsung terlibat dalam seluk beluk pengajaran, seginegatifnya terletak dalam kenyataan bahwa kemajuan dalam pemahaman diri dan perkembangankepribadian tidak dapat diukur melalui suatu tes hasil belajar seperti terjadi di bidang-bidangstudi akademik.
(d)    Pola Relasi-relasi Manusia dan Kesehatan Mental, bahwa orang akan lebih bahagia bila dapatmenjaga kesehatan mentalnya dan membina hubungan baik dengan orang lain. Segi positif dari pola ini ialah peningkatan kerja sama antara anggota-anggota staf pendidik di institusi pendidikan dan integrasi social di antara peserta didik dengan staf pendidik.C. Pendekatan atau Strategi Dasar Seorang ahli bernama Robert H. Mathewson (1962), berhasil membedakan tujuh pendekatanatau strategi dasar yang masing-masing pendekatan meupakan kontinum yang bipolar. Ketujuhstrategi dasar itu adalah sebagai berikut :
1. Edukatif versus Direktif, yaitu satu sisi pelayanan bimbingan dipandang sebagai pengalaman belajar bagin siswa yang membantu mereka untuk menentukan sendiri pilihan-pilihannya.
2. Komulatif versus Pelayanan, yaitu satu sisi satu pelayanan bimbingan dilihat sebagai progamyang kontinyu dan bersambung-sambung.
3. Evaluasi diri versus oleh orang lain, yaitu satu sisi satu pelayanan bimbingan dirancang untuk membantu siswa menemukan diri dan evaluasi diri atas prakarsa sendiri.
4. Kebutuhan Individu versus Kebutuhan Lingkungan, yaitu disisi satu pelayanan bimbinganmenekankan supaya kebutuhan-kebutuhan masing-masing siswa dipenuhi.
5. Penilaian Subyektif versus Penilaian Obyektif, yaitu disisi satu pelayanan bimbingandiarahkan ke penghayatan dan penafsiran siswa sendiri terhadap dirinya sendiri serta lingkunganhidupnya, disisi yang lain menitikberatkan pengumpulan data siswa dari sumber di luar siswasendiri.
6. Komprehensif versus Berfokus pada satu aspek atau satu bidang saja, yaitu di satu sisi pelayanan bimbingan diprogamkan sedemikian rupa sehingga semua tantangan dan permasalahan di berbagai bidang kehidupan siswa tercakup di dalamnya.
7. Koordinatif versus Spesialistik, yaitu di satu sisi ditangani oleh sejumlah tenaga melakukankerjasama secara koordinatif dalam memberikan bantuan dan berkedudukan sama dan harus bekerjasama erat dalam mendeskripsikan ciri-ciri suatu program bimbingan yang dilaksanakan pada institusi pendidikan, di sisi yang lain ditangani secara spesifik berdasarkan keahlian.
B. Jenis-Jenis Bimbingan.
1.. Bentuk-bentuk bimbingan
Istilah bentuk bimbingan menunjuk pada jumlah orang yang diberikan pelayanan bimbingan. Bilamana siswa yang dilayani hanya satu orang, maka digunakan istilah bimbingan individual atau bimbingan kelompok, entah kelompok itu kecil, agak besar, atau sangat besar.
2. Sifat- Sifat Bimbingan
 Istilah sifat bimbingan menunjuk pada tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan bimbingan,apakah itu mendampingi siswa dan mahasiswa dalam perkembangannya yang sedang berjalan , supaya berlangsung seoptimal mungkin; apakah itu membantu siswa dan mahasiswa dalam mengoreksi atau membetulkan proses perkembangan yang telah mengalami salah jalur, supaya kemudian berlangsung dengan baik.
3.      Ragam-Ragam Bimbingan
Istilah ragam bimbingan menunjuk pada bidang kehidupan tertentu atau aspek perkembangan tertentu yang menjadi fokus perhatian dalam pelayanan  bimbingan; dengan kata lain, tentang apa yang diberikan.
Terdapat tiga ragam bimbingan, yaitu bimbingan karier, bimbingan akademik, dan bimbingan pribadi social.
(a)    Bimbingan Karier
Bimbingan karier ialah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan/profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.
(b)   Bimbingan Akademik.
Bimbingan akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar disuatu institusi pendidikan.
(c)    Bimbingan Pribadi Sosial
Bimbingan pribadi Sosial merupakan batuan yang diberikan kepada siswa untuk embangun hidup pribadinya, seperti motivasi, persepsi tentang diri, gaya hidup, perkembangan nilai-nilai moral / agama dan sosial dalam diri, kemampuan mengerti dan menerima diri orang lain, serta membantunya untuk memecahkan masalah pribadi yang ditemuinya. Ketepatan bimbingan ini lebih terfokus pada pengembangan pribadi, yaitu membantu para siswa sebagai diri untuk belajar mengenal dirinya, belajar menerima dirinya, dan belajar menerapkan dirinya dalam proses penyesuaian yang produktif  terhadap lingkunganya.
C.     Perencanaan Program Bimbingan.
Sebagaimana dikatakan pada awal bab ini, seluruh kegiatan bimbingan terselenggarakan dalam rangka suatu program bimbingan (guidance program), yaitu suatu rangkaian kegiatan bimbingan yang terencana, terorganisasi, dan tekoordinasi selama periode waktu tertentu, misalnya satu tahun ajaran
1.      Komponen-komponen dalam program bimbingan
Yang dimaksud dengan komponen tertentu dalam program bimbingan ialah saluran khusus untuk melayani para siswa , rekan tenaga pendidik yang lain, serta orang tua siswa.
Adapun komponen dalam program bimbingan yaitu:
(a)    Pengumpulan Data (appraisal). Komponen ini mencakup semua usaha untuk memperoleh data tentang peserta didik, menganalisis dan menafsirkan data serta menyimpan data itu.
(b)   Pemberian Informasi (information). Komponen ini mencakup usaha-usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan serta pemahaman tentang lingkungan hidupnya dan tentang proses perkembangan anak muda.
(c)    Penempatan (placement). Komponen ini mencakup segala usaha membantu siswa merencanakan masa depannya selama masih disekolah dan, sesudah tamat, memilih program studi lanjutan sebagai persiapan untuk kelak memangku jabatan tertentu.
(d)   Konseling ( counseling). Komponen ini mencakup usaha membantu siswa merefleksikan diri melalui wawancara konseling secara individual atau secara kelompok, lebih-lebih bila siswa menghadapi masalah yang belum dapat terselesaikan secar tuntas.
(e)    Konsultasi (consultation). Komponen ini mencakup semua usaha memberikan asistensi kepada staf pendidik di sekolah bersangkutan dan kepada orang tua siswa, demi perkembangan siswa yang lebih baik.
(f)    Evaluasi Program  (evaluation). Komponen ini mencakup usaha menilai efisiensi dan efektivitas dari pelayanan bimbingan itu sendiri demi peningkatan mutu program bimbingan.
2.      Perencanaan Kegiatan-Kegiatan Bimbingan
(a)    Persiapan program bimbingan. Inti dari semua kegiatan pembimbing ialah pelayanan yang diberikan kepada para siswa (layanan-layanan bimbingan) dan kepada rekan tenaga pendidik serta kepada orang tua siswa, dan evaluasi program.
Ø  Studi kelayakan. Yang dimaksud dengan studi kelayakan ialah refleksi tentang alasan- alasan mengapa diperlukan suatu program bimbingan
Ø  Penyusunan program bimbingan. Ini dapat dikerjakan oleh tenaga ahli bimbingan atau oleh seorang guru-konselor, yang akan bertugas sebagai coordinator bimbingan, dengan mengajak bicara tenaga bimbingan yang lain disekolah (kalau sudah ada)
Ø  Penyedian sarana fisik  dan teknis.nsarana fisik adalah semua peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Sementara sarana teknis ialah alat-alat serta beraneka instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan layanan-layanan bimbingan.
Ø  Penentuan sarana personil/pembagian tugas: siapa-siapa yang akan diikut sertakan dalam pelaksanaan program bimbingan dan masing-masing orang akan diberi tugas apa.
Ø  Kegiatan-kegiatan penunjang, khususnya pertemuan staf bimbingan serta hubungan dengan masyarakat.
(b)   Pengumpulan data. Tidak semua subbutir harus dilaksanakan; tergantung dari kebutuhan
Ø  Angket siswa dan pengolahannya. Biasanya pada awal tahun ajaran dibagikan angket kepada siswa baru untuk mendapatkan data vtentang siswa, yang dapat diberikan oleh siswa sendiri.
Ø  Angket orang tua dan pengolahan.
Ø  Testing dan pengolahan
Ø  Tes sosiometri dan pengolahan
Ø  Skala penilaian dan pengolahan
Ø  Metode pengumpulan data lain.
(c)    Pemberian informasi. Tidak semua subbutir harus dilaksanakan; tergantung dari kebutuhan
Ø  Orientasi. Perkenalan siswa baru dengan lingkungan sekolah.
Ø  Cara belajar. Penjelasan tentang teknik-teknik belajar yang tepat misalnya kepada siswa dikelas satu dan kepada siswa din kelas 3 dala rangka mempersiapkan ebtanas.
Ø  Pergaulan. Penjelasan tentang cara bergaul yang sehat dengan teman-teman sebaya.
Ø  Artikulasi. Tim petugas bimbingan mengunjungi beberapa sekolah pengumpan, yang banyak tamatannya berminat melanjutkan kesekolah bersangkutan.
Ø  Bahan informasi yang lain,
(d)   Penempatan. Samapi berapa jauh semua subbutir dilaksanakan, tergantung dari kebutuhan dijenjang dan jenis pendidikn tertentu, misalnya dalam rangka kurikulum SMU 1994 diberikan bimbingan karier.
Ø  Pilihan kegiatan ekstrakurikuler. Kalau dalam ha itu diharapkan bantuan dari tenaga bimbingan, dapat diberikan angket kepada siswa, misalnya pada awal tahun ajaran untuk siswa kelas 1 dan 2
Ø  Pilihan program studi, misalnya di kelas 2 SMA menjelang akhir tahun ajaran, apakah siswa sebaiknya memilih program IPA, IPS, atau Bahasa.
Ø  Pilihan sekolah lanjutan. Untuk siswa SLTA, khususnya SMA, ada kaitannya dengan cita-cita masa depan, antara lain bidang pekerjaan.
Ø  Tindak lanjutan. Konselor sekolah melayani para alumni yang kembali ke sekolah asalnya untuk minta bantuan dalam meninjau kembali rencana masa depannya.
Ø  Kegiatan-kegiatan lain, yang dianggap perlu dalam rangka layanan bimbingan penempatan, misalnya membantu siswa mendaftarkan diri dijenjang pendidikan lanjut.
(e)    Konseling. Wawancar konseling dapat berlangsung antara konselor sekolah dengan satu orang siswa atau dengan beberapa siswa. Mungkin dibutuhkan pengiriman (referral) kepada ahli lain.
Ø  Individual. Layanan ini berlangsung selama tahun ajaran menurut kebutuhan.
Ø  Kelompok. Meskipun di Indonesia belum lazim di sekolah menengah, namun ada kemungkinan dirintis di suatu sekolah, khususnya pada jenjang SLTA.
(f)    Konsultasi. Pelayanan ini diberikan kepada tenaga-tenaga pendidik yang lain dan kepada orang tua siswa.
Ø  Dengan petugas administrasi sekolah (pimpinan).
Ø  Dengan seorang anggota staf pengajar.
Ø  Dengan orang tua siswa.
Ø  Pertemuan orang tua.
(g)   Evaluasi Program Bimbingan.
Ø  Penelitian. Untuk memperoleh data tentang efisiensi dan efektivitas dari program bimbingan, misalnya melalui suatu angket yang diisi oleh siswa.
Ø  Rencana perbaikan. Berdasarkan kesimpulan yang ditarik dari data penelitian, direncanakan serangkaian langkah perbaikan program, dengan berpedoman pula pada tujuan program bimbingan sebagaimana dirumuskan dalam rencana padav awal tahun pelajaran.
(h)   Pertemuan staf bimbingan. Beraneka kegiatan yang diikuti oleh seluruh anggota staf bimbingan.
Ø  Pertemuan berkala. Rapat rutin yang membahas berbagai persoalan yang muncul dalam rangka perencanaan, pengolahan dan program perbaikan bimbingan.
Ø  Konferensi kasus. Anggota staf bimbingan terkait berkumpul khusus untuk membahas kasus siswa-siswi tertentu, yang membutuhkan perhatian khusus.
Ø  Penataran. Segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan taraf keahlian dari semua anggota staf bimbingan.
(i)     Hubungan dengan instansi pendidikan masyarakat.
Ø  Dengan instansi pendidikan. Hubungan ini bersifat administrasi dan biasanya diadakan berdasarkan ketentuan oleh instansi yang berwenang, misalnya menerima kunjungan Tim Peninjau dari Kanwil atau mengirimkan laporan setiap tiga bulan.
Ø  Dengan masyarakat luas. Hubungan ini dimaksudkan untuk mendapat dukungan dari kalangan masyarakat serta badan-badan kemasyarakatan setempat dalam meningkatkan kesejateraan mental para siswa.
Ø  Kontak dengan jajaran pejabat sipil., ahli relevan yang lain, dan para petugas keamanan setempat yang dianggap mampu memberikan sumbangan pikiran dan tindakan.



by: Dewi Pertiwi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar